Tampilkan postingan dengan label faedah hidup. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label faedah hidup. Tampilkan semua postingan

Falsafah Hidup Jawa

0 komentar
Falsafah Ajaran Hidup Jawa memiliki tiga aras dasar utama.
Yaitu: aras sadar ber-Tuhan, aras kesadaran semesta dan aras keberadaban manusia. Aras keberadaban manusia implementasinya dalam ujud budi pekerti luhur. Maka di dalam Falsafah Ajaran Hidup Jawa ada ajaran keutamaan hidup yang diistilahkan dalam bahasa Jawa sebagai piwulang (wewarah) kautaman.
Secara alamiah manusia sudah terbekali kemampuan untuk membedakan perbuatan benar dan salah serta perbuatan baik dan buruk. Maka peranan Piwulang Kautaman adalah upaya pembelajaran untuk mempertajam kemampuan tersebut serta mengajarkan kepada manusia untuk selalu memilih perbuatan yang benar dan baik menjauhi yang salah dan buruk.
Namun demikian, pemilihan yang benar dan baik saja tidaklah cukup untuk memandu setiap individu dalam berintegrasi dalam kehidupan bersama atau bermasyarakat.
Oleh karena itu, dalam Piwulang Kautaman juga diajarkan pengenalan budi luhur dan budi asor dimana pilihan manusia hendaknya kepada budi luhur. Dengan demikian setiap individu atau person menjadi terpandu untuk selalu menjalani hidup bermasyarakat secara benar, baik dan pener (tepat, pas).
Cukup banyak piwulang kautaman dalam ajaran hidup cara Jawa. Ada yang berupa tembang-tembang sebagaimana Wulangreh, Wedhatama, Tripama, dll. Ada pula yang berupa sesanti atau unen-unen yang mengandung pengertian luas dan mendalam tentang makna budi luhur.
Misalnya : tepa selira dan mulat sarira, mikul dhuwur mendhem jero, dan alon-alon waton kelakon.
Filosofi yang ada dibalik kalimat sesanti atau unen-unen tersebut tidak cukup sekedar dipahami dengan menterjemahkan makna kata-kata dalam kalimat tersebut.
Oleh karena itu sering terjadi ”salah mengerti” dari para pihak yang bukan Jawa. Juga oleh kebanyakan orang Jawa sendiri. Akibatnya ada anggapan bahwa sesanti dan unen-unen Jawa sebagai anti-logis atau dianggap bertentangan dengan logika umum. Akibat selanjutnya berupa kemalasan orang Jawa sendiri untuk mendalami makna sesanti dan unen-unen yang ada pada khasanah budaya dan peradabannya.
Namun kemudian, sesanti dan unen-unen tersebut dijadikan olok-olok dalam kehidupan masyarakat.
Mulat sarira dan tepa selira diartikan bahwa Jawa sangat toleran dengan perbuatan KKN yang dilakukan kerabat dan golongannya.
Mikul dhuwur mendhem jero dimaknai untuk tidak mengadili orangtua dan pemimpin yang bersalah.
Alon-alon waton kelakon dianggap mengajarkan kemalasan.
Padahal ajaran sesungguhnya dari sesanti dan unen-unen tersebut adalah pembekalan watak bagi setiap individu untuk hidup bersama atau bermasyarakat. Tujuan utamanya adalah terbangunnya kehidupan bersama yang rukun, dami dan sejahtera. Bukan sebagai dalil pembenar perbuatan salah, buruk dan tergolong budi asor. Makna dari mulat sarira dan tepa selira adalah untuk selalu mengoperasionalkan rasa pangrasa dalam bergaul dengan orang lain.
Mulat sarira, mengajarkan untuk selalu instropeksi akan diri sendiri.”Aku ini apa? Aku ini siapa? Aku ini akan kemana? Aku ini mengapa ada?” Kesadaran untuk selalu instropeksi pada diri sendiri akan melahirkan watak tepa selira, berempati secara terus menerus kepada sesama umat manusia. Kebebasan individu akan berakhir ketika individu yang lain juga berkehendak atau merasa bebas. Maka pemahaman mulat sarira dan tepa selira merupakan bekal kepada setiap individu yang mencitakan kebebasan dalam hidup bersama-sama, bukan?
Mikul dhuwur mendhem jero, meskipun dimaksudkan untuk selalu menghormat kepada orangtua dan pemimpin, namun tidak membutakan diri untuk menilai perbuatan orangtua dan pemimpin. Karena yang tua dan pemimpin juga memiliki kewajiban yang sama untuk selalu melakukan perbuatan yang benar, baik dan pener. Justru yang tua dan pemimpin dituntut ”lebih” dalam mengaktualisasikan budi pekerti luhur. Orangtua yang tidak memiliki budi luhur disebut tuwa tuwas lir sepah samun. Orangtua yang tidak ada guna dan makna sehingga tidak pantas ditauladani. Pemimpin yang tidak memiliki budi luhur juga bukan pemimpin.
Alon-alon waton kelakon, bukan ajaran untuk bermalas-malasan. Namun merupakan ajaran untuk selalu mengoperasionalkan watak sabar, setia kepada cita-cita sambil menyadari akan kapasitas diri.
Contoh yang mudah dipahami ada dalam dunia pendidikan tinggi.
Normatif setiap mahasiswa untuk bisa menyelesaikan kuliah Strata I dibutuhkan waktu 8 semester. Namun kapasitas setiap mahasiswa tidaklah sama. Hanya sedikit yang memiliki kemampuan untuk selesai kuliah 8 semester tersebut. Sedikit pula yang prestasinya cum-laude dan memuaskan. Rata-rata biasa dan selesai kuliah lebih dari 8 semester. Dengan mengoperasionalkan ajaran alon-alon waton kelakon, maka mahasiswa yang kapasitas kemampuannya biasa-biasa akan selesai kuliah juga meskipun melebihi target waktu 8 semester.
Makna positifnya mengajarkan kesabaran dan tidak putus asa ketika dirinya tidak bisa seperti yang lain. Landasan falsafahnya, hidup bukanlah kompetisi tetapi lebih mengutamakan kebersamaan.
Banyak pula kita ketemukan Piwulang Kautaman yang berupa nasehat atau pitutur yang jelas paparannya.
Sebagai contoh adalah sebagai berikut :

“Ing samubarang gawe aja sok wani mesthekake, awit akeh lelakon kang akeh banget sambekalane sing ora bisa dinuga tumibane. Jer kaya unine pepenget, “menawa manungsa iku pancen wajib ihtiyar, nanging pepesthene dumunung ing astane Pangeran Kang Maha Wikan”.
Mula ora samesthine yen manungsa iku nyumurupi bab-bab sing durung kelakon. Saupama nyumurupana, prayoga aja diblakakake wong liya, awit temahane mung bakal murihake bilahi.
Terjemahannya:
“Dalam setiap perbuatan hendaknya jangan sok berani memastikan, sebab banyak sambekala (halangan) yang tidak bisa diramal datangnya pada “perjalanan hidup” (lelakon) manusia.
Sebagaimana disebut dalam kalimat peringatan “bahwa manusia itu memang wajib berihtiar, namun kepastian berada pada kekuasaan Tuhan Yang Maha Mengetahui”.
Maka sesungguhnya manusia itu tidak semestinya mengetahui sesuatu yang belum terjadi. Seandainya mengetahui (kejadian yang akan datang), kurang baik kalau diberitahukan kepada orang lain, karena akan mendatangkan bencana (bilahi).”

Piwulang Kautaman memiliki aras kuat pada kesadaran ber-Tuhan. Maka sebagaimana pitutur diatas, ditabukan mencampuri “hak prerogatif Tuhan” dalam menentukan dan memastikan kejadian yang belum terjadi.
original site by www.sekarjagad.org

Delapan Butir Mutiara Hidup

0 komentar
Arkian, sufi Asy-Syibli dalam hidupnya telah melayani 400 guru. "Aku sudah membaca empat ribu hadis. Di antara hadis-hadis itu, kupilih satu untuk aku amalkan, sedang hadis-hadis yang lain aku acuhkan. Sebab, setelah aku renung-renungkan, kusimpulkan bahwa keselamatan diriku ada pada hadis tersebut. Kukira, ilmu orang-orang dulu dan orang-orang sekarang teringkas di dalamnya. Karena itu aku cukupkan diriku dengannya. Hadis dimaksud ialah sabda Rasulullah s.a.w. kepada sahabat-sahabat beliau, "Beramallah untuk duniamu sesuai dengan maqam (posisi)-mu di dunia. Beramallah untuk akhiratmu menurut kadar kelanggenganmu di dalamnya. Beramallah untuk Allah sesuai dengan kadar kebutuhan-Mu pada-Nya. Dan baramallah untuk neraka sesuai dengan kadar kesanggupanmu menanggungnya."
Anakku, jika kamu mengamalkan hadis ini, kamu tidak memerlukan ilmu yang banyak. (Maksud hadis tadi: Kalau kamu termasuk dalam maqam orang yang harus membanting tulang untuk memenuhi kebutuhan pokok, kamu harus bekerja sungguh-sungguh karena mencukupi kebutuhan diri dan keluarga itu wajib. Kalau kamu tergolong maqam guru, kamu harus banyak mengajar. Kemudian sadarilah bahwa kamu akan kekal di akhirat. Tak ada akhir, tak ada kematian di akhrat. Karena itu, beramallah
untuknya dengan sungguh-sungguh.
Lalu kamu tahu kan, kamu sangat membutuhkan Allah karena
hanya Allahlah yang bisa memberi manfaat ataupun madharat
pada siapapun. Makanya, kamu harus beramal dengan
sungguh-sungguh guna meraih ridha-Nya.
Kamu pun tahu, kamu tidak sanggup menanggung siksa api
neraka. Karena itu, jangan coba-coba melakukan hal-hal
yang dapat menjerumuskanmu padanya, pen.)

Kekasih Sejati

Cobalah renungkan cerita berikut ini. Konon, Hatim Al-Asham berguru pada Syaqiq Al-Balkhi. Kata Syaqiq, "Kamu telah berguru padaku selama tiga puluh tahun. Apa yang
engkau peroleh dari situ?" "Aku mendapat delapan faedah, dan itu cukup bagiku karena
aku berharap bakal meraih keselamatan darinya." "Apa saja itu?" tanya Syaqiq.
Hatim lalu merinci kedelapan faedah tersebut.

faedah Pertama," ujarnya, "aku coba perhatikan orang-orang. Kulihat mereka saling berkasih-kasihan, saling mencinta satu sama lain. Ada yang mencinta sampai kekasihnya menderita sakit parah yang mengantarnya ke kematian. Ada yang mencinta sampai kekasihnya terbujur di liang lahat. Setelah itu, sang kekasih ditinggal sendirian di dalam kubur, tak seorang
pun ikut serta (masuk ke dalamnya). Dari situ saya berpikir, 'Ah, dia ini bukan kekasih sejati karena dia tidak ikut menemani dia di dalam kubur. Kekasih sejati
mustinya terus menghiburnya sampai kapan pun.' Ternyata, tidak ada yang menemani kita sampai ke liang kubur kecuali amal saleh kita. Inilah, pikirku, kekasih sejati. Makanya,amal saleh kujadikan kekasihku, supaya dia menjadi pelita yang menerangiku di dalam kubur, menghiburku dan tidak meninggalkanku sendirian di sana.

Budak Nafsu

Faedah kedua, saya lihat orang-orang menuruti hawa nafsu mereka. Mereka buru-buru mengejar keinginan-keinginan mereka. Lalu saya merenungkan firman Allah, 'Dan adapun
orang yang takut pada maqam Tuhannya dan mencegah nafsu menuruti hawa (perintah jelek)-nya, maka sorga adalah tempat kembalinya.' (An-Nazi'at: 40-41) Saya yakin bahwa Al-Quran itu benar, karena itu aku lekas-lekas melawan hawa nafsu saya, dan saya mengerahkan segala daya untuk memeranginya (mujahadah). Aku terus melakukan hal itu sampai nafsu tergiring untuk menyenangi taat kepada Allah dan tunduk pada-Nya.

Remah-remah Dunia

Faedah ketiga, saya amati semua orang berlomba untuk mengumpulkan remah-remah dunia kemudian (setelah berhasil) menggenggamnya erat-erat. Saya coba merenungkan firman
Allah , 'Apa yang ada di sisimu akan rusak, dan apa yang di sisi Allah itu kekal.' Saya pun segera menyalurkan harta dunia yang ada pada saya untuk mendapat ridha Allah. Saya agikan harta saya itu kepada kaum fakir miskin, sehingga jadilah dia tabunganku di sisi Allah.

Apa Kemuliaan?

faedah Keempat, saya perhatikan, ada sebagian orang yang mengira bahwa kemuliaan itu ada pada banyaknya pengikut dan anak buah, sehingga dia tertipu dengannya. (Dia pun jadi congkak karena memiliki banyak pengikut. Dia menganggap dirinya sebagai pemimpin sejati karena pengaruhnya benar-benar mengakar, karena dia dikelilingi orang-orang
yang butuh padanya, pen.). Ada yang menyangka bahwa kemuliaan itu ada pada melimpahnya harta benda dan banyaknya anak, lalu mereka membanggakan hal-hal itu.
Sebagian lagi menganggap kemuliaan terdapat pada kemampuannya untuk meng-ghashab (merampas) harta orang lain dan berbuat zhalim pada mereka serta menumpahkan
darah mereka. Ada pula yang menyangka bahwa yang namanya kemuliaan itu ialah berbuat boros dan menghambur-hamburkan harta. Saya pun mencoba merenungkan firman Allah, 'Sungguh orang yang paling mulia di antara kalian adalah yang paling bertakwa.' (Al-Hujurat: 13) Saya lalu memutuskan untuk memilih takwa saja karena saya berkeyakinan bahwa Al-Quran itu benar, sedang dugaan mereka itu salah dan sesat.

Hasud

Kelima, saya melihat orang-orang saling mencela satu sama lain. Mereka saling menggunjing satu sama lain. Dan semua itu saya dapati merupakan rasa hasud dalam hal harta, pangkat dan ilmu. Lantas saya berpikir tentang firman Allah SWT, "Kami membagi-bagi rezeki mereka di antara mereka ereka dalam kehidupan dunia." (Az-Zukhruf: 32) Dari sana, tahulah saya bahwa pembagian itu dari Allah. Sejak
itu, saya tidak mau lagi memendam rasa hasud pada siapapun, dan saya pun ridha dengan pembagian Allah Ta'ala.

Musuh Sejati

Faedah keenam
, saya lihat orang-orang saling bermusuhan satu sama lain karena satu dan lain sebab, karena satu dan lain kepentingan. Maka saya merenungkan firman Allah,
'Sungguh syetan itu bagi kalian adalah musuh, maka jadikanlah dia musuh.'(Fathir: 6) Dari situ saya tahu bahwa kita tidak boleh memusuhi siapapun selain syetan.

Faedah ketujuh, saya amati setiap orang berusaha sungguh-sungguh dan membanting tulang untuk mendapatkan makanan pokok dan mengais rezeki sampai terkadang mereka
melanggar barang syubhat dan barang haram. Mereka bahkan tak segan menghinakan diri mereka dan merendahkan martabat mereka. Lalu saya merenungkan firman Allah, "Dan tidak satu pun dari yang melata di bumi kecuali atas (tanggungan) Allah rezekinya." Dari sini saya tahu bahwa rezeki saya sudah ditanggung oleh Allah. Sejak itu, saya menyibukkan diri saya dengan beribadah pada-Nya, dan saya matikan ketamakan (pengharapan) saya pada selain-Nya.

Tawakal

Faedah kedelapan, saya lihat tiap-tiap orang bergantung pada makhluk. Sebagian bergantung pada dinar dan dirham (uang tunai), sebagian pada barang berharga dan kekuasaan, sebagian pada keahlian dan keterampilan, sebagian lagi bergantung pada sesamanya. Lalu saya merenungkan firman-Nya, 'Dan barangsiapa bertawakal pada Allah, maka Dia akan mencukupinya. Sungguh Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh Dia telah menjadikan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.' (Ath-Thalaq: 3) Sejak itu saya putuskan untuk bertawakal kepada Allah, karena Dialah yang mencukupi saya, dan Dialah sebaik-baik wakil (tempat bergantung)."

Empat Kitab Suci

Setelah mendengar uraian Hatim, Syaqiq berkata, "Mudah-mudahan Allah memberi pertolongan padamu. Aku telah membaca Taurat, Injil, Zabur dan Al-Quran. Kulihat, ajaran keempat suci ini berkisar pada delapan butir faedah ini. Dengan demikian, barangsiapa telah mengamalkannya, dia telah melaksankaan ajaran empat kitab suci sekaligus."