Menunggu Pelangi

0 komentar
“Pelangi!! Ayo kesini! Hujannya lumayan deras nihh! Nanti sakit loh!” teriakku sekencang – kencangnya ke arah Pelangi yang dari tadi mengincar air hujan yang berjatuhan. “ Bentar donk! Lagi seru main sama air nih! Lagian kalo disitu nanti kita ga bisa lihat pelangi tau!” balas pelangi dari kejauhan. Aku segera mendatanginya. “ Mana Ngi pelanginya?” tanyaku penasaran dengan kata–katanya barusan. Di situ aku pertama kali melihat pelangi yang indaaahh sekali bersama dengan sahabat setiaku, Pelangi. Oh iya. Kenalkan namaku Tito. Aku sudah duduk di bangku kuliah. Semester 4. Aku sangat suka dengan dunia balap. Piala dan penghargaan prestasiku di dunia balap juga ga dikit lho. Cuplikan tadi hanya seberkas cerita kecilku bersama sahabatku Pelangi. Dan itu adalah kali pertama kita melihat pelangi bersama – sama dan akhirnya menjadi hobi kita setiap ada hujan. Hari ini, begitu indah untuk seluruh keluargaku. Ayah baru saja pulang dari Amerika. Kenangan indah masa kecilku bersama ayahku kembali lagi di benakku. Tami dan Hugo juga terlihat senang. Terutama si Tami, adikku yang paling kecil sekaligus paling manja dan cerewet ini seakan tak mau lepas dari pelukan ayahku. Mama juga memasakkan makanan kesukaan semua anggota keluarga hari ini. Tak lama, rintik – rintik hujan mulai berdatangan. Makin lama makin deras. Ikan – ikan dibelakang rumah membiarkan nuansa hening dan damai dari rintik – rintik hujan menambah volume air di habitat mereka. Tumbuhan – tumbuhan juga membiarkan tetesan air membasahi permukaan daun mereka. Teringat kembali aku akan si Pelangi. Dia masih satu kampus denganku. Ku angkat telepon genggamku yang ada di atas sofa yang sedang kududuki sekarang ini. Aku mencari nomer telepon dari sahabat tercintaku itu. Setelah kutemukan, kutekan tombol berwarna hijau yang ada di antara beberapa tombol lain. Mulailah suara halus dan lembut menjawab panggilanku. Aku mulai berbincang dengan Pelangi dan mengajaknya pergi bersamaku untuk melihat pelangi di angkasa sebelum hujan reda. “ Hayo kak Tito janjian sama kak Pelangi yaaa......” tiba – tiba suara si Hugo menyadarkanku dari serunya pembicaraan dengan Pelangi. Segera kutarik kulit tangannya setelah aku menutup telponku dengan Pelangi. “ Apaan sih kamu itu! Masih SMP jangan ikut – ikutan! Kakak mau pergi sama kak Pelangi dulu. Ntar bilangin ke ayah sama mama oke?” aku bertutur kepada adik laki – lakiku yang rese’ ini. Seraya dia menjawab, “ Pake pajak dong kak!”. Aku tercengang. Si Hugo nyengar – nyengir ga karuan. Oke deh, aku kasih dia uang jajan. “ Hai! Udah lama ya? “ sapaku dengan menepuk pundak si Pelangi yang sudah menunggu beberapa menit. “ Eh? Oh, enggak kok. Baru 10 menit.” Jawabnya dengan lembut. “ Oh. Sorry ya udah buat nunggu.“ pintaku dengan penuh harap. “ Nggakpapa To. Santai aja deh.” Jawabnya dengan santai dan tulus. Pelangi langsung menunjuk ke langit yang sedang menurunkan air saat itu. Kami berdua langsung tersenyum bersamaan. Bangku taman yang kami duduki terasa hangat dan nyaman. Huft, seperti dulu lagi. Sangat indah saat ini. Sungguh romantis situasinya. Sempurna sekali dengan rencanaku yang sudah beberapa tahun kupendam. Aku merentangkan tanganku ke pundak Pelangi. Pelangi yang terkaget segera memandang wajahku. Dengan lirih aku menanyakan hal yang sangat sulit untuk ditanyakan dan dijawab. “Ngi. Ehm.., Pelangi. L, lo, lo mau ga…” aku berusaha bertanya dan mengeluarkan kata – kata. Pelangi menjawab tanyaku yang belum selesai kuucapkan “Mau apa To? Kalo bantuin lo, gue mau kok.”. “ Ituh, bukan. Bukan bantuin gue. Tapi lo mau ga… jadi.. jadi.. pa..” aku ga bisa mengeluarkan kata – kata dengan sempurna. “Huft.. ayo bicara Tito!” aku berbicara pada diriku sendiri dalam hati. Mobil Avanza berwarna silver menghampiri kita. “ Eh To. Ga terasa kita udah lama lho disini. Tuh kakak gue udah jemput. Ngomongnya besok dikampus ya. Oke friend??” seru Pelangi bergegas menghampiri mobil kakaknya. “ Eh, Ow. Oke deh. Bye..” aku menjawab seruan pelangi dengan kecewa karena aku ga bisa mengungkapkan rasa yang sudah lama ingin aku ungkapkan. Apa lagi, dia memanggilku ‘friend’, apa mudah buat aku nembak dia?? Di kampus, aku memulai pelajaran bersama semua teman – temanku yang menambah ceria hari – hariku. Seperti awalnya, anak – anak GALGOBHIN atau pasnya genknya si Rico, anak terpintar,terbaik, dan tersopan di penjuru kampus sekaligus rivalku untuk mendapatkan Pelangi ini menjawab setiap pertanyaan yang diajukan Pak Fardi yang adalah sang Master dari Matematika. Istirahat, aku menemui Pelangi duduk bersama Chika dan Tiwi di kantin. Aku meminta izin pada Chika dan Tiwi untuk berbicara sedikit dengan Pelangi. Dan aku diizinkan. Aku menarik tangan Pelangi ke depan pintu kantin. Dag dig dug makin terasa. Makin keras, keras, dan terasa jantung ini akan pecah. Mengapa? Karena aku berhasil dengan lancar menembak Pelangi. Sekarang aku tinggal menunggu jawaban. Kutatap matanya, ia juga menatap mataku. Dan jawaban apa yang kudapat? “Ehm, gimana yah? Oke deh. Tapi kita harus serius dan ga main-main oke?” Jelas saja kubalas “PASTI!!!”. Diriku serasa melayang bebas ke udara. Lalu kutemui bidadari di sana. Aku berdansa dengannya dengan disaksikan oleh keluarga dan sobat-sobatku disana. Siapa lagi bidadarinya kalau bukan Pelangi? Kita jadi sering banget jalan berdua. Dan sering juga melihat pelangi bersama-sama. Setelah gossip jadiannya aku sama Pelangi tersebar, Rico and friends mendatangi aku. Aduh, dia pasti bakal ngelabrak aku habis – habisan nih. Aku bergegas pergi dari dudukku. Tapi anak buah Rico menarik tas hitamku. Aku jatuh ke lantai dan merasa ketakutan sekali. Apalagi Dido dan Rahman yang bergabung di genk itu adalah juara boxing antar kampus. Keringat dingin bercucur dari dahiku hingga ujung dagu. Perlahan – lahan Rico menjulurkan tangannya. Aku memejamkan mata dengan kuat dan berusaha melindungi kepalaku dengan lenganku. Tapi apa? “ Slamet ya. Ternyata lo yang ngedapetin Pelangi duluan” Itu yang Rico ucapakan. Hah? Bener? Waw. Aku ga nyangka banget ada orang yang baik sampe kaya gitu. Makin seneng deh. Besoknya, aku berangkat ke kampus kaya biasa. Naik sepeda motor sama boncengin Pelangi. Pelangi juga memberiku gantungan kunci benang berwarna – warni mulai dari merah dan berurut sampai ungu. Ditengahnya terdapat plastik bertuliskan ‘Rainbow’ dan sekarang kugunakan untuk menghias kunci sepeda motorku. Pulangnya aku dikabarkan dengan kabar yang sangat tidak menggembirakanku. Ayahku masuk rumah sakit! Mengapa? Aku juga ga tau. Intinya, mama meneleponku dan memberitahu kalau ayah masuk rumah sakit. Segera kulajukan dengan cepat Sportbikes menuju rumah sakit. Aku melihat mama, Tami dan Hugo terduduk lemas di ruang tunggu. Aku segera menghampiri mama. “ Mama! Gimana ayah?!” bermuka pucat mama menjawab, “Ayahmu kumat lagi To. Padahal sudah lama penyakit ayah tidak muncul.” Aku terduduk lesu ke kursi di sebelah adikku Tami. Tami memandangi wajahku dengan raut wajahnya yang pucat dan berusaha menahan tangis. Aku mempersilahkan untuk meletakkan kepalanya di dadaku. Kupeluk erat badan mungilnya. Dengan isak tangis keluargaku benar - benar dipenuhi haru hari ini, Otakku berjalan lambat ke belakang dan membiarkan kotak di pojok otakku memutar kembali memori kita sekeluarga. Aku teringat beberapa minggu lalu saat ayah baru pulang dari Amerika. Keluargaku benar – benar senang dan bahagia. Hingga kutemui Pelangi dan kutembak dia. Saat ayah memberikan oleh – olehnya pada kami. Dan saat Hugo menggangguku ketika bertelepon dengan Pelangi. Oh betapa berbeda sekali dengan hari ini. "Tito!!” panggil mama dan menyadarkan lamunanku akan memori beberapa minggu lalu. Mama memberi kertas berisi biaya yang harus dibayar untuk perawatan ayah. “ Segini banyak, Ma?” aku bertanya heran pada mama. Mama menganggukkan kepalanya pertanda kata – kata “ IYA” Gimana cara mendapatkan uang sebanyak ini? Aduh… Pikiranku lebih kacau dan makin stress ketika Pelangi berkata ia akan pergi ke Australia. Ya ampun! Apa ada lagi cobaan yang akan menerkamku setelah ini? Ah! Terpaksa aku harus merelakan kepergian Pelangi ke Australia. Tapi kali ini lebih haru lagi yang kurasakan. Hatiku seakan dicabik – cabik. Aku berharap Pelangi bisa mengingatku di sana. Kuharap Pelangi juga akan menepati dan tidak mengingkari belasan janjinya padaku. Baiklah, aku masih punya gantungan kunci dari Pelangi. Aku harus memikirkan caraku mendapatkan uang untuk perawatan ayah. Tapi dimana? Oh iya! Ada Paman Heru! Paman yang paling berjasa di dunia balapku. Aku pergi ke rumah Paman Heru saat itu juga. Aku lihat Paman Heru sedang bersantai di depan rumahnya sambil minum kopi. Aku menyapanya dan mulai berbincang beberapa lama. “Kamu butuh uang berapa To?” Paman Heru bertanya sambil bersiap mengambil dompet kulit dari saku celananya. “Segini Paman” aku memberikan kertas yang diberikan mama saat di rumah sakit. “ Wah. Banyak nih To. Oke paman mau kasih. Tapi Cuma bisa seperempatnya aja. Sisanya cari sendiri oke?” sahut paman. “Oke deh paman.” Balasku sedikit kecewa. Paman Heru mengeluarkan hampir seluruh isi dompetnya. Ku raih uang itu. Aku mengucapkan terimakasih.“ Ehm, paman. Cari sisanya dimana yah? Maaf ya paman kalo ngrepotin..” “ Aduh dimana ya? Paman Heru udah jarang banget ketemu event – event balap.” Jawab Paman Heru. “ Bener nih Paman? Ngga ada sama sekali?” tanyaku sekali lagi untuk meyakinkan. “ Ada sih satu. Paman kemarin ketemu satu event. Hadiahnya lumayan gede juga” jawab paman sekali lagi. “Ya udah aku ikut.” Jawabku tanpa pikir panjang. “Tapi yang ngadain Komunitas Bali.” Ujar Paman. “Hah? Bali? Balap Liar paman?” tanyaku dengan heran. “Iya. Kamu tau kan konsekuensinya?” “Emmmm, oke deh gapapa. Pokoknya ayah sembuh.” Setelah kubicarakan hal ini dengan mama, Tami dan Hugo, tak ada yang menyetujui kesepakatanku kecuali Hugo. Hanya dia yang menyemangatiku saat itu. “ Udah To. Kalo ada barang yang bisa dijual, biar mama jual daripada kamu ikut balapan kaya gitu.” Mama melarangku. “ Iya kak. Biar nanti Tami jual gorengan atau apa gitu buat bayar biayanya ayah. Daripada kakak nanti kenapa – napa.” Tami yang masih di bangku SD itu juga berusaha melarang. Tapi keputusanku udah bulat. Aku akan tetap mengikuti balap ini. Hari yang kutunggu akhirnya tiba. Sudah siap aku di atas motor balapku ini. Tak lupa ada gantungan kunci dari Pelangi yang menemaniku. Para cewek – cewek di depanku menarik bendera hitam putih di tangan mereka. Segera melaju kami semua. Urutan pertama ada rivalku si Joe. Tapi aku berusaha menyalipnya. Beberapa lap sudah kulewati. Tinggal satu lap lagi. Aku masih di urutan dua. Joe mengencangkan lagi gasnya. Aku juga tak mau kalah. Aku tancap gasku. Kini jarakku dengan Joe hanya beberapa cm! Kutancap lagi gasku! Garis finish sudah ada di depanku. Mataku mulai jeli memainkan trik. Kutancap gas hingga aku berada di depan Joe. Kuhalangi laju motor Joe dengan zig zag. Tinggal sedikit lagi.. Ya, ya, ya.. YESSS!!! Aku berhasil mencapai urutan pertama di garis finish. Paman Heru berteriak menyemangatiku dari jauh. Para penonton menyoraki dan memberi tepuk tangan untukku. Sangat haru sekali. Sangat memuaskan. Tapi, polisi! Polisi! Polisi! Penonton berlarian kesana kemari. Para pembalap lain melaju kencang tak berarah. Paman Heru berteriak padaku “Tito!!!! Ayo pergi!!!! Paman ga mau kamu ditangkap polisi!!!” “Lhoh kenapa paman???!!!!! Aku kan belum dapat hadiahnya!!!!” teriakku membalas paman Heru. “Tito ini Balap Liar!!!!! Kamu lupa ya????!!!!!!” Jregg. Oh iya!! Aku baru teringat. Kutancap gasku. Aku melaju tanpa arah. Tak kusangka segerombolan cewek centil berlari dengan histeris di depanku. Aku rem motorku dengan sangat mendadak dan dengan kecepatan yang melebihi normalnya. Keseimbanganku goyah. Aku terjatuh dari motorku! Kaki kiriku tertindih body motorku. Sebelum kubebaskan kaki kiriku, kuraih dulu gantungan kunci dari Pelangi. Sedikit lagi…, yah! Aku berhasil membebaskan kakiku! Gantungan kunci dari Pelangi juga sudah kukantongi. Belum aku berdiri dari jatuhku, seorang pembalap dengan motor besarnya segera melindas kedua kakiku dengan kecepatan tinggi. Sakit sekali! Aku mengerang kesakitan. Benar – benar sakit. Lebih sakit daripada hatiku yang tercabik saat Pelangi pergi. Paman Heru datang menghampiriku. Belum sempat aku mendengar Paman Heru berbicara, pandangankupun gelap. Apa ini? Aku sudah mati? Oh aku sudah mati ya. Ternyata aku sudah mati. Perlahan – lahan aku membuka mataku. Rasanya sudah lama sekali aku tidur. Tapi ada mama di depanku. Tami dan Hugo juga ada. Baunya sama persis ketika aku melihat ayah yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Oh? Aku sedang ada di rumah sakit? Aku bangun dari tidurku. Kulihat anggota badanku. Ada yang hilang!! Kakiku!! Mana?? Dimana kedua kakiku? Tertanya peristiwa itu membuat aku kehilangan kedua kakiku. Harusnya aku menuruti nasehat mama dan Tami. Pasti tidak akan seperti ini jadinya. Ah! Tapi nasi telah menjadi bubur. Apa daya ?? “Kak, waktu kakak koma, kak Pelangi dating kesini lho.” Kata Tami saat aku berbaring di ranjang tidur. “ Oh ya? Terus terus? Kak Pelangi bilang apa aja?” tanyaku penasaran dan langsung bangkit dari tidurku. “Enggak bilang apa – apa. Cuma kesini pegang tangan kak Tito terus pulang.” Jelas Tami. “Cuma gitu? Dia ga nitip apa – apa?” aku heran. “ Emm, enggak kok.” Jawab Tami ragu. “oh. Ya udah deh”. Siang itu hujan turun. Aku sangat ingat pada Pelangi. Soalnya dia pernah buat janji tiap ada hujan turun dia akan balik buat liat pelangi sama – sama. Dengan bantuan dorongan Hugo, aku menelusuri lorong rumah sakit hingga ke lobby dengan kursi roda. Kutunggu terus hingga Hugo tertidur di atas sofa. Tapi hingga larut ia tak juga datang. Namun aku sangat menyesal menunggunya sejak aku melihat surat yang terletak di atas meja. Andai saja waktu Tami bercerita padaku, aku tau kalau di tangannya ada surat dari Pelangi. Surat itu berisi : “Buat Tito sahabat gue sekaligus pacar gue yang paling gue sayang. To, gue minta maaf. Gue ga bisa balik lagi buat liat pelangi sama – sama lagi kaya dulu. Soalnya di sini gue udah ketemu ama cowok yang gue pikir bisa dampingin hidup gue. Tolong titip gantungan kuncinya ya. Rawat yang baik oke?”.Itupun belum semua. Yang paling membuat aku menyesal menunggunya semalaman adalah kalimat terakhir dari suratnya. Yaitu: “Gue ga bisa hidup sama orang cacat kaya lo” Kini kusadari, pelangi hanya terbentuk dari pembiasan yang tidak nyata. Namun bisa membuat satu cahaya putih menjadi bermacam – macam warna. Tetapi pelangi hanya sementara dan bila tak ada air dan cahaya pelangi hanya akan mengingkari janjinya untuk menyinari dunia. Sama seperti si Pelangi. Pelangi memiliki ciri – ciri yang kuimpikan namun tidak nyata di hatinya. Ia bisa membuat hidupku berwarna dan ceria. Tapi hiburan itu hanya sementara untukku dan bila tidak ada diriku yang utuh seperti dulu, ia mengingkari janjinya dan berpaling.

Persahabatan

0 komentar
Pagi hari saat aku terbangun tiba-tiba ada seseorang memanggil namaku. Aku melihat keluar. Ivan temanku sudah menunggu diluar rumah kakekku dia mengajakku untuk bermain bola basket.“Ayo kita bermain basket ke lapangan.” ajaknya padaku. “Sekarang?” tanyaku dengan sedikit mengantuk. “Besok! Ya sekarang!” jawabnya dengan kesal.“Sebentar aku cuci muka dulu. Tunggu ya!”, “Iya tapi cepat ya” pintanya.Setelah aku cuci muka, kami pun berangkat ke lapangan yang tidak begitu jauh dari rumah kakekku.“Wah dingin ya.” kataku pada temanku. “Cuma begini aja dingin payah kamu.” jawabnya.Setelah sampai di lapangan ternyata sudah ramai. “Ramai sekali pulang aja males nih kalau ramai.” ajakku padanya. “Ah! Dasarnya kamu aja males ngajak pulang!”, “Kita ikut main saja dengan orang-orang disini.” paksanya. “Males ah! Kamu aja sana aku tunggu disini nanti aku nyusul.” jawabku malas. “Terserah kamu aja deh.” jawabnya sambil berlari kearah orang-orang yang sedang bermain basket.“Ano!” seseorang teriak memanggil namaku. Aku langsung mencari siapa yang memanggilku. Tiba-tiba seorang gadis menghampiriku dengan tersenyum manis. Sepertinya aku mengenalnya. Setelah dia mendekat aku baru ingat. “Bella?” tanya dalam hati penuh keheranan. Bella adalah teman satu SD denganku dulu, kami sudah tidak pernah bertemu lagi sejak kami lulus 3 tahun lalu. Bukan hanya itu Bella juga pindah ke Bandung ikut orang tuanya yang bekerja disana. “Hai masih ingat aku nggak?” tanyanya padaku. “Bella kan?” tanyaku padanya. “Yupz!” jawabnya sambil tersenyum padaku. Setelah kami ngobrol tentang kabarnya aku pun memanggil Ivan. “Van! Sini” panggilku pada Ivan yang sedang asyik bermain basket. “Apa lagi?” tanyanya padaku dengan malas. “Ada yang dateng” jawabku. “Siapa?”tanyanya lagi, “Bella!” jawabku dengan sedikit teriak karena di lapangan sangat berisik. “Siapa? Nggak kedengeran!”. “Sini dulu aja pasti kamu seneng!”. Akhirnya Ivan pun datang menghampiri aku dan Bella.Dengan heran ia melihat kearah kami. Ketika ia sampai dia heran melihat Bella yang tiba-tiba menyapanya. “Bela?” tanyanya sedikit kaget melihat Bella yang sedikit berubah. “Kenapa kok tumben ke Jogja? Kangen ya sama aku?” tanya Ivan pada Bela. “Ye GR! Dia tu kesini mau ketemu aku” jawabku sambil menatap wajah Bela yang sudah berbeda dari 3 tahun lalu. “Bukan aku kesini mau jenguk nenekku.” jawabnya. “Yah nggak kangen dong sama kita.” tanya Ivan sedikit lemas. “Ya kangen dong kalian kan sahabat ku.” jawabnya dengan senyumnya yang manis.Akhinya Bella mengajak kami kerumah neneknya. Kami berdua langsung setuju dengan ajakan Bela. Ketika kami sampai di rumah Bela ada seorang anak laki-laki yang kira-kira masih berumur 4 tahun. “Bell, ini siapa?” tanyaku kepadanya. “Kamu lupa ya ini kan Dafa! Adikku.” jawabnya. “Oh iya aku lupa! Sekarang udah besar ya.”. “Dasar pikun!” ejek Ivan padaku. “Emangnya kamu inget tadi?” tanyaku pada Ivan. “Nggak sih!” jawabnya malu. “Ye sama aja!”. “Biarin aja!”. “Udah-udah jangan pada ribut terus.” Bella keluar dari rumah membawa minuman. “Eh nanti sore kalian mau nganterin aku ke mall nggak?” tanyanya pada kami berdua. “Kalau aku jelas mau dong! Kalau Ivan tau!” jawabku tanpa pikir panjang. “Ye kalau buat Bella aja langsung mau, tapi kalau aku yang ajak susah banget.” ejek Ivan padaku. “Maaf banget Bell, aku nggak bisa aku ada latihan nge-band.” jawabnya kepada Bella. “Oh gitu ya! Ya udah no nanti kamu kerumahku jam 4 sore ya!” kata Bella padaku. “Ok deh!” jawabku cepat.Saat yang aku tunggu udah dateng, setelah dandan biar bikin Bella terkesan dan pamit keorang tuaku aku langsung berangkat ke rumah nenek Bella. Sampai dirumah Bella aku mengetuk pintu dan mengucap salam ibu Bella pun keluar dan mempersilahkan aku masuk. “Eh ano sini masuk dulu! Bellanya baru siap-siap.” kata beliau ramah. “Iya tante!” jawabku sambil masuk kedalam rumah. Ibu Bella tante Vivi memang sudah kenal padaku karena aku memang sering main kerumah Bella. “Bella ini Ano udah dateng” panggil tante Vivi kepada Bella. “Iya ma bentar lagi” teriak Bella dari kamarnya. Setelah selesai siap-siap Bella keluar dari kamar, aku terpesona melihatnya. “Udah siap ayo berangkat!” ajaknya padaku.Setelah pamit untuk pergi aku dan Bella pun langsung berangkat. Dari tadi pandanganku tak pernah lepas dari Bella. “Ano kenapa? Kok dari tadi ngeliatin aku terus ada yang aneh?” tanyanya kepadaku. “Eh nggak apa-apa kok!” jawabku kaget.Kami pun sampai di tempat tujuan. Kami naik ke lantai atas untuk mencari barang-barang yang diperlukan Bella. Setelah selesai mencari-cari barang yang diperlukan Bella kami pun memtuskan untuk langsung pulang kerumah. Sampai dirumah Bella aku disuruh mampir oleh tante Vivi. “Ayo Ano mampir dulu pasti capek kan?” ajak tante Vivi padaku. “Ya tante.” jawabku pada tante Vivi.Setelah waktu kurasa sudah malam aku meminta ijin pulang. Sampai dirumah aku langsung masuk kekamar untuk ganti baju. Setelah aku ganti baju aku makan malam. “Kemana aja tadi sama Bella?” tanya ibuku padaku. “Dari jalan-jalan!” jawabku sambil melanjutkan makan. Selesai makan aku langsung menuju kekamar untuk tidur. Tetapi aku terus memikirkan Bella. Kayanya aku suka deh sama Bella. “Nggak! Nggak boleh aku masih kelas 3 SMP, aku masih harus belajar.” bisikku dalam hati.Satu minggu berlalu, aku masih tetap kepikiran Bella terus. Akhirnya sore harinya Bella harus kembali ke Bandung lagi. Aku dan Ivan datang kerumah Bella. Akhirnya keluarga Bella siap untuk berangkat. Pada saat itu aku mengatakan kalau aku suka pada Bella.“Bella aku suka kamu! Kamu mau nggak kamu jadi pacarku” kataku gugup.“Maaf ano aku nggak bisa kita masih kecil!” jawabnya padaku. “Kita lebih baik Sahabatan kaya dulu lagi aja!”Aku memberinya hadiah kenang-kenangan untuknya sebuah kalung. Dan akhirnya Bella dan keluarganya berangkat ke Bandung. Walaupun sedikit kecewa aku tetap merasa beruntung memiliki sahabat seperti Bella. Aku berharap persahabatan kami terus berjalan hingga nanti.
Populerkan, simpan atau kirim cerpen in

Dagelan

0 komentar
Salah Nurunin Resleting
Tumini seorang wanita dewasa pegawai sebuah kantor swasta asing pagi itu mau berangkat kerja dan lagi menunggu bus kota di mulut gang rumahnya. Seperti biasa pakaian yang dikenakan cukup ketat, roknya semi-mini, sehingga bodinya yang seksi semakin kelihatan lekuk likunya.

Bus kota datang, tumini berusaha naik lewat pintu belakang, tapi kakinya kok tidak sampai di tangga bus. Menyadari keketatan roknya, tangan kiri menjulur ke belakang untuk menurunkan sedikit resleting roknya supaya agak longgar.

Tapi, ough, masih juga belum bisa naik. Ia mengulangi untuk menurunkan lagi resleting roknya. Belum bisa naik juga ke tangga bus. Untuk usaha yang ketiga kalinya, belum sampai dia menurunkan lagi resleting roknya, tiba-tiba ada tangan kuat mendorong pantatnya dari belakang sampai Marini terloncat dan masuk ke dalam bus.

Tumini melihat ke belakang ingin tahu siapa yang mendorongnya, ternyata ada pemuda gondrong yang cengar-cengir melihat Tumini.

“Hei, kurang ajar kau. Berani-beraninya nggak sopan pegang-pegang pantat orang!”

Si pemuda menjawab kalem, “Yang nggak sopan itu situ, Mbak. Masak belum kenal aja berani-beraninya nurunin resleting celana gue.”

Pemeras Kecil
Seorang anak kecil yang bandel melihat kakaknya dicium oleh teman lelakinya. Esok harinya, ia menemui lelaki itu.

“Abang semalam mencium kakakku bukan?”
“Ya, tapi jangan keras-keras. Ini seribu untuk tutup mulut!”
“Terima kasih, ini uang kembaliannya lima ratus!”
“Lho, kok pakai uang kembalian segala?”
“Saya tidak mau nakal, Bang. Semua orang yg mencium kakak juga saya tagih lima ratus!”
“???!!!”

Sakit kanker ato Aids??
Seorang penderita kanker di beritahukan oleh dokternya bahwa hidupnya tidak lama lagi hanya sekitar 2 minggu lagi. Mendengar khabar tak mengenakkan hati, ia memberitahukan anaknya untuk segera mengadakan pesta besar perpisahan.

Ditengah kawan-kawannya ia menyatakan : “Maaf teman-teman, Saya mengumpulkan Kalian agar tahu bahwa Saya tak lama lagi akan meninggalkan Kalian, AIDS telah merongrong tubuh Saya.”

Anaknya dengan heran bertanya : “Ayah, mengapa Ayah berbohong atas penyebab kematian Ayah?”

Ayahnya menjawab : “Sssst, aku tak mau salah seorang dari mereka akan tidur dengan Ibumu yang cantik setelah aku meninggal kelak !”

Kalo Kerja Pake Ini
Kerja pake ini Di suatu pinggiran kota, hiduplah seorang nyonya yang cukup (sedikit mampu) dengan pembantunya yang selalu buat masalah.

Suatu hari, pembantu itu memecahkan piring untuk kesekian kalinya... akhirnya nyonya itu memanggil pembantunya sambil memaki berkata," Minah....kamu ini gimana...dasar org goblok, makanya kalau kerja itu jangan pake ini (sambil nunjuk lututnya) tapi pake ini (sambil nunjuk kepalanya, otak-red)...kamu saya pecat.."akhirnya pembantunya pergi...

5 tahun kemudian, di suatu Supermarket..si Nyonya ketemu dengan pembantunya yang dulu tapi dengan pakaian yang mewah dengan banyak perhiasan emas...

Si-nyonya memanggil," Minah, kok kamu sekarang berubah..menjadi kaya...kok bisa????
Si-pembantunya menjawab," makanya Bu, kalau kerja itu jangan pake ini (sambil nunjuk kepalanya, otak-red) tapi pake ini donk (sambil nunjuk dii antara pahanya)...."?#$#@"

Kalau Main Dokter-Dokteran Jangan di Ruang Tamu
Sepasang suami istri tertangkap basah oleh anak mereka ketika sedang melakukan hubungan badan di ruang tamu. Pasangan suami istri itu berusaha menjelaskan kepada anak mereka yang setengah remaja itu, bahwa mereka sedang bergurau dan bermain dokter-dokteran.

Dengan santai si anak menasihati orang tuanya itu, "Kalau mau main dokter-dokteran jangan di ruang tamu, nanti kalau ada orang ngeliat kan disangka sedang melakukan hubungan suami-istri....!"

Delapan Butir Mutiara Hidup

0 komentar
Arkian, sufi Asy-Syibli dalam hidupnya telah melayani 400 guru. "Aku sudah membaca empat ribu hadis. Di antara hadis-hadis itu, kupilih satu untuk aku amalkan, sedang hadis-hadis yang lain aku acuhkan. Sebab, setelah aku renung-renungkan, kusimpulkan bahwa keselamatan diriku ada pada hadis tersebut. Kukira, ilmu orang-orang dulu dan orang-orang sekarang teringkas di dalamnya. Karena itu aku cukupkan diriku dengannya. Hadis dimaksud ialah sabda Rasulullah s.a.w. kepada sahabat-sahabat beliau, "Beramallah untuk duniamu sesuai dengan maqam (posisi)-mu di dunia. Beramallah untuk akhiratmu menurut kadar kelanggenganmu di dalamnya. Beramallah untuk Allah sesuai dengan kadar kebutuhan-Mu pada-Nya. Dan baramallah untuk neraka sesuai dengan kadar kesanggupanmu menanggungnya."
Anakku, jika kamu mengamalkan hadis ini, kamu tidak memerlukan ilmu yang banyak. (Maksud hadis tadi: Kalau kamu termasuk dalam maqam orang yang harus membanting tulang untuk memenuhi kebutuhan pokok, kamu harus bekerja sungguh-sungguh karena mencukupi kebutuhan diri dan keluarga itu wajib. Kalau kamu tergolong maqam guru, kamu harus banyak mengajar. Kemudian sadarilah bahwa kamu akan kekal di akhirat. Tak ada akhir, tak ada kematian di akhrat. Karena itu, beramallah
untuknya dengan sungguh-sungguh.
Lalu kamu tahu kan, kamu sangat membutuhkan Allah karena
hanya Allahlah yang bisa memberi manfaat ataupun madharat
pada siapapun. Makanya, kamu harus beramal dengan
sungguh-sungguh guna meraih ridha-Nya.
Kamu pun tahu, kamu tidak sanggup menanggung siksa api
neraka. Karena itu, jangan coba-coba melakukan hal-hal
yang dapat menjerumuskanmu padanya, pen.)

Kekasih Sejati

Cobalah renungkan cerita berikut ini. Konon, Hatim Al-Asham berguru pada Syaqiq Al-Balkhi. Kata Syaqiq, "Kamu telah berguru padaku selama tiga puluh tahun. Apa yang
engkau peroleh dari situ?" "Aku mendapat delapan faedah, dan itu cukup bagiku karena
aku berharap bakal meraih keselamatan darinya." "Apa saja itu?" tanya Syaqiq.
Hatim lalu merinci kedelapan faedah tersebut.

faedah Pertama," ujarnya, "aku coba perhatikan orang-orang. Kulihat mereka saling berkasih-kasihan, saling mencinta satu sama lain. Ada yang mencinta sampai kekasihnya menderita sakit parah yang mengantarnya ke kematian. Ada yang mencinta sampai kekasihnya terbujur di liang lahat. Setelah itu, sang kekasih ditinggal sendirian di dalam kubur, tak seorang
pun ikut serta (masuk ke dalamnya). Dari situ saya berpikir, 'Ah, dia ini bukan kekasih sejati karena dia tidak ikut menemani dia di dalam kubur. Kekasih sejati
mustinya terus menghiburnya sampai kapan pun.' Ternyata, tidak ada yang menemani kita sampai ke liang kubur kecuali amal saleh kita. Inilah, pikirku, kekasih sejati. Makanya,amal saleh kujadikan kekasihku, supaya dia menjadi pelita yang menerangiku di dalam kubur, menghiburku dan tidak meninggalkanku sendirian di sana.

Budak Nafsu

Faedah kedua, saya lihat orang-orang menuruti hawa nafsu mereka. Mereka buru-buru mengejar keinginan-keinginan mereka. Lalu saya merenungkan firman Allah, 'Dan adapun
orang yang takut pada maqam Tuhannya dan mencegah nafsu menuruti hawa (perintah jelek)-nya, maka sorga adalah tempat kembalinya.' (An-Nazi'at: 40-41) Saya yakin bahwa Al-Quran itu benar, karena itu aku lekas-lekas melawan hawa nafsu saya, dan saya mengerahkan segala daya untuk memeranginya (mujahadah). Aku terus melakukan hal itu sampai nafsu tergiring untuk menyenangi taat kepada Allah dan tunduk pada-Nya.

Remah-remah Dunia

Faedah ketiga, saya amati semua orang berlomba untuk mengumpulkan remah-remah dunia kemudian (setelah berhasil) menggenggamnya erat-erat. Saya coba merenungkan firman
Allah , 'Apa yang ada di sisimu akan rusak, dan apa yang di sisi Allah itu kekal.' Saya pun segera menyalurkan harta dunia yang ada pada saya untuk mendapat ridha Allah. Saya agikan harta saya itu kepada kaum fakir miskin, sehingga jadilah dia tabunganku di sisi Allah.

Apa Kemuliaan?

faedah Keempat, saya perhatikan, ada sebagian orang yang mengira bahwa kemuliaan itu ada pada banyaknya pengikut dan anak buah, sehingga dia tertipu dengannya. (Dia pun jadi congkak karena memiliki banyak pengikut. Dia menganggap dirinya sebagai pemimpin sejati karena pengaruhnya benar-benar mengakar, karena dia dikelilingi orang-orang
yang butuh padanya, pen.). Ada yang menyangka bahwa kemuliaan itu ada pada melimpahnya harta benda dan banyaknya anak, lalu mereka membanggakan hal-hal itu.
Sebagian lagi menganggap kemuliaan terdapat pada kemampuannya untuk meng-ghashab (merampas) harta orang lain dan berbuat zhalim pada mereka serta menumpahkan
darah mereka. Ada pula yang menyangka bahwa yang namanya kemuliaan itu ialah berbuat boros dan menghambur-hamburkan harta. Saya pun mencoba merenungkan firman Allah, 'Sungguh orang yang paling mulia di antara kalian adalah yang paling bertakwa.' (Al-Hujurat: 13) Saya lalu memutuskan untuk memilih takwa saja karena saya berkeyakinan bahwa Al-Quran itu benar, sedang dugaan mereka itu salah dan sesat.

Hasud

Kelima, saya melihat orang-orang saling mencela satu sama lain. Mereka saling menggunjing satu sama lain. Dan semua itu saya dapati merupakan rasa hasud dalam hal harta, pangkat dan ilmu. Lantas saya berpikir tentang firman Allah SWT, "Kami membagi-bagi rezeki mereka di antara mereka ereka dalam kehidupan dunia." (Az-Zukhruf: 32) Dari sana, tahulah saya bahwa pembagian itu dari Allah. Sejak
itu, saya tidak mau lagi memendam rasa hasud pada siapapun, dan saya pun ridha dengan pembagian Allah Ta'ala.

Musuh Sejati

Faedah keenam
, saya lihat orang-orang saling bermusuhan satu sama lain karena satu dan lain sebab, karena satu dan lain kepentingan. Maka saya merenungkan firman Allah,
'Sungguh syetan itu bagi kalian adalah musuh, maka jadikanlah dia musuh.'(Fathir: 6) Dari situ saya tahu bahwa kita tidak boleh memusuhi siapapun selain syetan.

Faedah ketujuh, saya amati setiap orang berusaha sungguh-sungguh dan membanting tulang untuk mendapatkan makanan pokok dan mengais rezeki sampai terkadang mereka
melanggar barang syubhat dan barang haram. Mereka bahkan tak segan menghinakan diri mereka dan merendahkan martabat mereka. Lalu saya merenungkan firman Allah, "Dan tidak satu pun dari yang melata di bumi kecuali atas (tanggungan) Allah rezekinya." Dari sini saya tahu bahwa rezeki saya sudah ditanggung oleh Allah. Sejak itu, saya menyibukkan diri saya dengan beribadah pada-Nya, dan saya matikan ketamakan (pengharapan) saya pada selain-Nya.

Tawakal

Faedah kedelapan, saya lihat tiap-tiap orang bergantung pada makhluk. Sebagian bergantung pada dinar dan dirham (uang tunai), sebagian pada barang berharga dan kekuasaan, sebagian pada keahlian dan keterampilan, sebagian lagi bergantung pada sesamanya. Lalu saya merenungkan firman-Nya, 'Dan barangsiapa bertawakal pada Allah, maka Dia akan mencukupinya. Sungguh Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh Dia telah menjadikan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.' (Ath-Thalaq: 3) Sejak itu saya putuskan untuk bertawakal kepada Allah, karena Dialah yang mencukupi saya, dan Dialah sebaik-baik wakil (tempat bergantung)."

Empat Kitab Suci

Setelah mendengar uraian Hatim, Syaqiq berkata, "Mudah-mudahan Allah memberi pertolongan padamu. Aku telah membaca Taurat, Injil, Zabur dan Al-Quran. Kulihat, ajaran keempat suci ini berkisar pada delapan butir faedah ini. Dengan demikian, barangsiapa telah mengamalkannya, dia telah melaksankaan ajaran empat kitab suci sekaligus."

Pengertian C++

0 komentar
C++ adalah sebuah bahasa pemrograman yang memiliki banyak dialek, seperti bahasa orang yang banyak memiliki dialek. Dalam C++, dialek bukan disebabkan oleh karena si pembicara berasal dari Jepang atau Indonesia, melainkan karena bahasa ini memiliki beberapa kompiler yang berbeda. Ada empat kompiler umum yaitu : C++ Borland, C++ Microsoft Visual, C/386 Watcom, dan DJGPP. Anda dapat mendownload DJGPP atau mungkin saja anda telah memiliki kompiler lain.

Setiap kompiler ini agak berbeda. Setiap kompiler akan dapat menjalankan fungsi fungsi standar C++ ANSI/ISO, tetapi masing masing kompiler juga akan dapat menjalankan fungsi fungsi nonstandard (fungsi fungsi ini, agak mirip dengan ucapan yang tidak standar yang diucapkan orang diberbagai pelosok negeri. Sebagai contoh, di New Orleans kata median disebut neutral ground). Kadang kadang pemakaian fungsi nonstandard akan menimbulkan masalah pada saat anda hendak mengkompilasi kode sumber data (source code) (yaitu program berbahasa C++ yang ditulis oleh seorang programer) mempergunakan kompiler yang berbeda. Tutorial ini tidak terlepas dari masalah seperti itu.

Bila anda belum mempunyai sebuah kompiler, disarankan agar anda segera memiliki sebuah kompiler. Sebuah kompiler sederhana sudah cukup untuk dipergunakan oleh anda dalam mengikuti tutorial ini.

Bahasa pemrograman C++ adalah bahasa yang amat berbeda. Untuk kompiler C++ berbasis DOS, akan memerlukan beberapa kata kunci (keywords); keyword sendiri tidak cukup untuk difungsikan sebagai input dan output. Walau hampir semua fungsi dalam file library tampaknya bias diakses oleh header filenya. Coba kita lihat program sesungguhnya :
#include
int main()
{
cout<<”HEY, you, I’m alive! Oh, and Hello World!”;
return 0;
}

Tips on Choosing a Good Domain Name

0 komentar

Before you rush out and choose your domain name or name your website, you might want to consider the following points:

1. Your Domain Name Should Be Your Website Name

Naming your site after your domain may seem obvious to some of you, but you'll be surprised to learn that not every website is named after the domain name even when the webmaster owns that domain name.

Naming a site after its domain name is important, for the simple reason that when people think of your website, they'll think of it by name. If your name is also your URL, they'll automatically know where to go. For example, when people think of thefreecountry.com, they don't have to wonder what URL to type into their browser to get there. The name of the site is also the URL.

Imagine if your business (or website) is called "Acme", but somebody else holds that domain name. Instead, you have some obscure domain name called, say, "mybusiness.com". What happens when your customers, recalling that Acme has a product they want, type "www.acme.com"? They'll wind up at your competitor's website. One lost sale.

In the modern world of the Internet, where people automatically turn to the Web for information, it pays to have a domain name that reflects your site or business. There are just fewer things for your customers or visitors to remember. Moreover, you don't seriously think that they'll try to memorise an unrelated URL just because you want them to, do you? The only people who'll memorise it are you and your competitors who want to compare your prices.

What if you cannot get the domain name of your choice? It really depends on how committed you are to that particular name. If you have an existing brand name that you're known for, you'll probably not want to ditch that name just because you couldn't get the domain name. After all, it took you a lot of time and money to establish that name. If so, you might simply want to try to buy over the domain name from the current owner. Check up the "whois" information for the domain, and contact that person listed to see if they're willing to sell it. You probably should be aware that they are likely to want to charge a higher fee than you'll normally get when buying new domains (assuming they want to sell it in the first place).

On the other hand, if you're just starting out, you might prefer the cheaper alternative of trying to obtain a domain name first, and then naming your website (or business) after the domain that you've acquired. So if you've acquired, say, the domain name "acme.com", then your website and business might be named "Acme" or "acme.com". I know this seems a bit like putting the cart before the horse, but that's the reality if you don't want to lose out on the Internet.

2. Generic Names Or Brand Name Domains?

I know that a number of people seem to think that your domain name really must be some generic name like "cars.com" if you are selling cars. Witness, for example, how much money those generic names are being sold for. But seriously, if you were looking for a car, you'll probably already have some brands in mind, and you're more like to try out things like generalmotors.com or toyota.com rather than just cars.com.

For that reason, I personally feel that a domain name that matches your brand name is very important. The very name that you use to advertise your product is the name that you will want for your domain, because that is the first thing that people will try in their browser. It is also the easiest thing for them to remember, and whatever that is easily remembered, will be more likely to be tried out than the obscure domain name.

3. Long or Short Domain Names?

Domain names can be of any length up to 67 characters. You don't have to settle for an obscure domain name like avab.com when what you mean is AcmeVideosAndBooks.com.

Having said that, there appears to be some disagreement about whether a long or short domain name is better.

Some argue that shorter domain names are easier to remember, easier to type and far less susceptible to mistakes: for example, "getit.com" is easier to remember and less prone to typos than "connecttomywebsiteandobtainit.com".

Others argue that a longer domain name is usually easier on the human memory - for example, "gaepw.com" is a sequence of unrelated letters that is difficult to remember and type correctly, whereas if we expand it to its long form, "GetAnEconomicallyPricedWebsite.com", we are more likely to remember the domain name.

Some of these arguments are actually academic. It's increasingly difficult to get short meaningful domain names. I have not checked, but I'm fairly certain that names like "getit.com" and "good.com" have long been sold. If you manage to get a short domain name though, the key is to make sure it's a meaningful combination of characters and not the obscure "gaepw.com" in my contrived example above.

Long domain names that have your site keywords in them also have an advantage in that they fare better in a number of search engines. The latter give preference to keywords that are also found in your domain names. So, for example, if you have a site on free C++ compilers with a domain name like freecpluspluscompilers.com, it might fare better in a search for "free C++ compilers" than my other site, thefreecountry.com.

Which would I go for? I'd go for the shorter name if I can get a meaningful one, but I'm not averse to longer names. However, I would probably avoid extremely long names verging on 67 characters. Aside from the obvious problem that people might not be able to remember such a long name, it would also be a chore typing it and trying to fit it as a title on your web page.

4. Hyphenated Names?

Should you get a hyphenated name? There are a few things to consider here:

a. Disadvantage: It's easy to forget the hyphens when typing a name. Many users are used to typing things like freecpluspluscompilers.com but not free-c-plus-plus-compilers.com. They'll probably leave out the hyphens and wind up at your competitor's site.

b. Disadvantage: When people recommend your site to their friends verbally, having hyphens in your domain name leads to more potential errors than when the name does not contain hyphens. For example, how do you think your visitors will refer to your site if it is named "acme-books-and-videos.com"? They might say, "I visited Acme Book and Videos dot com yesterday. It was fabulous." Their friends, remembering that comment later, might type into their browsers "acmebooksandvideos.com". Oops.

c. Disadvantage: It's a pain in the neck to type. Enough said.

d. Advantage: Search engines can distinguish your keywords better and thus return your site more prominently in search results for those keywords occurring in your domain name.

e. Advantage: The non-hyphenated form may no longer be available. At least this way, you still get the domain name you want.

Personally, I prefer to avoid hyphenated names if I can, but I guess it really depends on your domain name and your situation.

5. Plurals, "The", and "My" Forms of the Domain Name

Very often, if you can't get the domain name you want, the domain name registrar will suggest alternate forms of the name you typed. For example, if you wanted website.com, and it was taken (of course it is), it might suggest forms like:

thewebsite.com
mywebsite.com
websites.com

and the like, if they were not already taken as well. The question is, should you take them?

My personal opinion is that if you take the "the..." and "my..." forms of the domain name, you must always remember to promote your site with the full form of the name. Otherwise, people are likely to forget to affix the necessary "the" or "my". For that reason, I always advertise my sites as "thesitewizard.com" and "thefreecountry.com" in their full domain name forms, rather than just "Free Country" or "Site Wizard" (without the article).

On the other hand, I would not take the plural form of the domain name (eg, websites.com) if I cannot also get "website.com", since the chance of the visitor failing to type the "s" in the name is very great. Think about the famous name tussle between etoys.com and etoy.com. Many people wanting to go to etoys.com were apparently going to etoy.com instead. If it happened to them, it can happen to you too.

6. COM, ORG, NET, etc?

One common question I encounter is from people who can't get the ".com" domain of their choice, but find the ".net", ".org" or other country-specific top level domains (TLDs) available (like .de, .nu, .sg, etc). Should they try for these?

The answer is not as straightforward as you might think. If your website or business caters to the local community, such as a pizza delivery business or recruitment agency or the like, then it makes sense to get a country-specific domain. You actually benefit from having such a local domain because the people in your country know that they're dealing with a local entity, which is what they want. After all, if they stay in (say) the United Kingdom, they're not likely to want to try to order pizza from pizzaparlour.com, which suggests a US or an international site. You'll have better luck calling it pizzaparlour.co.uk, ie, with a UK domain.

What if yours is a site or business that can benefit from an international audience? There are actually many schools of thought on this. I'll just mention a few common ones.

The first school of thought goes on the premise that it is better to have a domain name of your choice "myperfectdomain" even if it has a TLD of ".net", ".org" or some other country specific extension, than to wind up choosing an obscure domain name for the simple reason you can't get your first choice. Thus they would settle for domain names like "myperfectdomain.de" or "myperfectdomain.net" or whatever. Against this is the argument that if you get a country specific domain, people might think that your business only caters to that country.

Another school of thought finds that ".net" and ".org" extensions are actually quite acceptable domain names. For some, the ".org" extension actually describes the non-profit nature of their organisation. So, for example, the famous Apache web server can be found at "apache.org".

Others settle for the ".com" extension and no less. As grounds for their arguments, they cite the browser algorithms used to locate a website when a user simply types a name like "acme" into the browser. Apparently, the browser searches for a domain name "acme.com" before attempting "acme.net", etc. As such, people who do that will be delivered to your competitor's site if you do not also own the ".com" extension. Indeed, even if people do not rely on their browser to complete their typing, many simply assume a ".com" extension when they type a domain name, so if your business is "Acme", they'll just assume your domain name is "acme.com" rather than "acme.net" or some other such name.

As you can see, there are actually good grounds for accepting any of the above views. My personal footnote to the above arguments is that if you get a domain name with an extension other than ".com", make sure that you promote your business or website with the full domain name. For example, if your domain name is "dogandcatfood.net", make sure that when you advertise your site or business, call it "dogandcatfood.net" not "dogandcatfood". Otherwise people will assume a ".com" extension and travel to the wrong place.

7. In Conclusion...

In case the forest got lost in the trees (or the reverse) in my arguments here, let me reiterate the main point of this article: get that domain name before you start your site or business.

Don't make the mistake of attempting to retrofit your domain name to your business or website. thefreecountry.com did not originally start out with that name, and I encountered a huge hassle (and lost visitors) as a result of the URL changes. Don't make that mistake too.

If you need help getting that domain name, check out my other article on how to register a domain name. In that article, I also include a list of some registrars that you can use, distinguishing the well-established ones from the less established but cheap ones (so you have a wider choice, depending on what is important to you). The article can be found at http://www.thesitewizard.com/archive/registerdomain.shtml

Reference by Christopher Heng, thesitewizard.com